Wednesday, April 24, 2019

PENGGUNAAN EYD DAN DIKSI

Penggunaan EYD dan Diksi

Pengertian EYD
Ejaan Yang Disempurnakan adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi. Ejaan adalah seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa. Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis.
1. Pemakaian Huruf 
Ejaan bahasa Indoneisia Yang Disempurnakan (EYD) dikenal paling banyak menggunakan huruf abjad. Sampai saat ini jumlah huruf abjad yang digunakan sebanyak 26 buah. 
a.          Huruf Abjad
b.         Huruf Vokal
c.          Huruf Konsonan
d.         Huruf Diftong
e.          Gabungan Huruf Konsonan
2. Penulisan Huruf
    A. Penulisan huruf Besar (Kapital)
Penggunaan EYD dalam huruf dan kata yang pertama ialah sebagai aturan dalam menulis huruf kapital. Dibawah ini terdapat beberapa jenis aturan yang benar dalam penulisan huruf kapital:

  • Penulisan Jabatan Tidak Disertai Nama Orang

Penggunaan EYD tersebut berpedoman kepada 5 butir aturan yaitu huruf kapital digunakan dalam menulis huruf pertama nama jabatan, nama instansi, nama tempat maupun pangkat yang disertai dengan nama seseorang. Misalnya : Gubernur Jawa Tengah, Wakil Presiden Muhammad Hatta, Panglima Jenderal Joko Setiono, dan sebagainya.
  • Penulisan Nama Bangsa

Penggunaan EYD juga digunakan dalam menulis nama bangsa. Huruf kapital digunakan untuk menulis huruf pertama dalam bahasa, nama bangsa maupun suku bangsa. Misalnya : bahasa Jawa, suku Bugis, bangsa Jepang dan sebagainya.

  • Penulisan Nama Geografi Yang Termasuk Nama Jenis

Selanjutnya terdapat aturan penggunaan EYD yang baik dan benar dalam menulis nama geografi. Namun menurut pedoman dalam penulisan EYD, nama geografi tidak ditulis menggunakan huruf kapital jika tidak tergolong nama jenis. Misalnya : menyebrang ke pantai, makan di dapur, kacang bali, pisang raja, salak bandung dan sebagainya.

  • Penulisan Unsur Bentuk Ulang Sempurna

Penggunaan EYD selanjutnya berfungsi untuk menulis nama unsur bentuk ulang yang sempurna. Huruf kapital ini digunakan untuk menulis huruf pertama unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat dalam dokumen resmi, nama lembaga ketatanegaraan dan nama lembaga pemerintah. Misalnya : Undang Undang Dasar, Pancasila, Perserikatan Bangsa Bangsa, Yayasan Ahli Gigi Jawa Tengah, dan sebagainya.
    B. Penulisan Huruf Miring

Penggunaan EYD dalam huruf dan kata selanjutnya berguna untuk menulis huruf miring. Berikut beberapa aturan yang berguna untuk menulis kata atau huruf miring:


  • Penulisan Nama Buku

Dalam pedoman penggunaan EYD terdapat aturan penulisan nama buku. Huruf miring digunakan menulis nama buku, majalah, cetakan, maupun nama koran yang kalimatnya dikutip. Misalnya : Koran Solo Pos, Majalah Solo Fashion, Buku Jurnal Indonesia, dan sebagainya.

  • Penulisan Bahasa Asing serta Penegasan Kata

Berdasarkan pedoman penggunaan EYD yang benar terdapat pernyataan bahwa huruf miring berfungsi untuk menulis penegasan huruf, kata, kelompok kata maupun bagian kata. Misalnya : goal relanshionsip, area modelling, dan sebagainya.

  • Penulisan Kata Ilmiah

Penggunaan EYD juga terdapat dalam penulisan kata ilmiah. Huruf miring ini digunakan untuk menulis nama ungkapan ilmiah dan nama unsur ilmiah namun tidak berlaku untuk nama ilmiah yang telah mengalami penyesuaian ejaan. Misalnya : rhizopoda, lactobacilus, dan sebagainya.

    C. Penulisan Kata Turunan

Penggunaan EYD dalam huruf dan kata yang terakhir ialah dalam penulisan kata turunan. Dalam penulisan kata turunan dapat dibagi lagi menjadi dua yaitu dalam penulisan gabungan kata awalan akhiran dan gabungan kata kombinasi. Berikut penjelasannya:
  • Gabungan Kata Awalan Akhiran
Dalam penggunaan EYD ini menggunakan kata gabungan yang terdapat diawal dan diakhir. Dalam penulisan ini kata turunan mendapatkan imbuhan diawal atau diakhir kemudian dirangkai menjadi satu. Misalnya : garis bawahi, sebar luaskan, bertepuk tangan, dan sebagainya.
  • Gabungan Kata Kombinasi
Selanjutnya terdapat penulisan kata turunan dalam gabungan kata kombinasi. Penggunaan EYD ini terdapat dalam gabungan kata yang kombinasi saja kemudian ditulis serangkai. Misalnya : antarnegara, antarmurid, audiovisual, dwiwarna, antinarkoba, dan sebagainya.

    D. Penulisan Gabungan Kata


Dalam penulisan gabungan kata, penggunaa EYD yang baik dan benar sangat diperlukan. Hal tersebut dikarenakan kata dapat digabung secara khusus maupun serangkai. Berikut penggunaan EYD dalam gabungan kata:
  • Penulisan Gabungan Kata Istilah Khusus
Penggunaan EYD dalam gabungan kata istilah khusus dapat mengakibatkan kesalahan pengertian maka dapat ditulis menggunakan kata hubung agar dapat dipertegas tali dalam unsur yang berkaitan. Misalnya : bapak-ibu saya, alat pandang-dengar, mesin-jahit portable, buku ekonomi-baru, dan sebagainya.
  • Penulisan Gabungan Kata Serangkai
Penggunaan EYD juga digunakan dalam penulisan gabungan kata serangkai. Dalam kata yang digabung harus ditulis serangkai menurut pedoman EYD yang berlaku. Misalnya : darmawisata, daripada, radioaktif, paribahasa, padahal, adakalanya, acapkali, kacamata, dukacita, manakala, belasungkawa, matahari, saptamarga dan sebagainya. 

3. Pemakaian Tanda Baca

Tanda koma (,)
Kaidah penggunaan tanda koma (,) digunakan:
  • Antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
  • Memisahkan anak kalimat atau induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
  • Memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata tetapi atau melainkan.
  • Memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
  • Digunakan untuk memisahkan kata seperti : o, ya, wah, aduh, dan kasihan.
  • Dipakai diantara : (1) nama dan alamat, (2) bagina-bagian alamat, (3) tempat dan tanggal, (4) nama dan tempat yang ditulis secara berurutan.
  • Dipakai antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
  • Dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
  • Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
  • Dipakai di antara bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
  • Menghindari terjadinya salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
  • Tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau seru.
Tanda Titik (.)
Penulisan tanda titik di pakai pada :
  • Akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan
  • Akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
  • Akhir singkatan nama orang.
  • Singkatan atau ungkapan yang sudah sangat umum. Bila singkatan itu terdiri atas tiga hurus atau lebih dipakai satu tanda titik saja.
  • Dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
  • Dipakai untuk memisahkan bilangan atau kelipatannya.
  • Memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
  • Tidak dipakai pada akhir judulyang merupakan kepala karangan atau ilustrasi dan tabel.

Tanda Titik Tanya ( ? )
Tanda tanya dipakai pada :
  • Akhir kalimat tanya.
  • Dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang diragukan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

Tanda Seru ( ! )
Tanda seru digunakan sesudah ungkapan atau pertanyaan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, rasa emosi yang kuat dan ketidakpercayaan.
Tanda Titik Dua ( : )
Tanda titik dua dipakai untuk :
  • Sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemberian.
  • Pada akhir suatu pertanyaan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
  • Di dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan
  • Di antara judul dan anak judul suatu karangan.
  • Di antara bab dan ayat dalam kitab suci
  • Di antara jilid atau nomor dan halaman
  • Tidak dipakai apabila rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

Tanda Titik Koma ( ; )
Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara. dan digunakan untuk memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Tanda Garis Miring ( / )
Tanda garis miring ( / ) dipakai untuk :
  • Dalam penomoran kode surat.
  • Sebagai pengganti kata dan,atau, per, atau nomor alamat.
Tanda Petik ( "…" )
Tanda petik dipakai untuk :
  • Mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
  • Mengapit kata atau bagian kalimat yang mempunyai arti khusus, kiasan atau yang belum
  • Mengapit judul karangan, sajak, dan bab buku, apabila dipakai dalam kalimat.
Tanda Elipsis (…)
Tanda ini menggambarkan kalimat-kalimat yang terputus-putus dan menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dibuang. Jika yang dibuang itu di akhir kalimat, maka dipakai empat titik dengan titik terakhir diberi jarak atau loncatan.

Tanda Penyingkat atau Apostrof ( ‘ )
Tanda penyingkat dipakai untuk menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Misalnya:
  • 1 Januari ’88. (’88 = 1988)
  • Ali ‘kan kusurati. (‘kan = akan)
  • Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah)
Tanda Petik Tunggal ( ‘...’ )
Tanda petik tunggal dipakai untuk:
  • Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
  • mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.


Pengertian Diksi

Diksi merupakan sebuah pilihan kata yang tepat atau selaras dalam penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan sehingga didapatkan efek tertentu seperti apa yang diharapkan. Atau dengan kata lain, diksi adalah pilihan kara pembicara atau penulis dalam menggambarkan cerita yang dibuatnya. Tidak hanya diartikan sebagai pilihan kata, diksi juga diartikan sebagai suatu pernyataan yang digunakan untuk mengungkapkan sebuah gagasan ataupun mengungkapkan suatu cerita meliputi persoalan seperti gaya bahasa, ungkapan gagasan dan lain sebagainya. Dengan diksi maka setiap kata dapat dibaca dan dipahami pembaca maupun pendengar.

Fungsi Diksi
Diksi dalam pembuatan karya sastra memiliki beberapa fungsi sebagai berikut :
  • Membuat orang yang membaca atau pun mendengar karya sastra menjadi lebih faham mengenai apa yang ingin disampaikan oleh pengarang.
  • Membuat komunikasi menjadi lebih efektif.
  • Melambangkan ekspresi yang ada dalam gagasan secara verbal (tertulis atau pun terucap).
  • Membentuk ekspresi atau pun gagasan yang tepat sehingga dapat menyenangkan pendengar atau pun pembacanya.
Macam – macam Diksi
  1. Sinonim
Sinonim merupakan pilihan kata yang memiliki persamaan makna. Penggunaan kata sinonim biasanya dimaksudkan untuk membuat apa yang dikatakan / dituliskan menjadi lebih sesuai dengan ekspresi yang ingin diungkapkan. Contohnya : mati (ekspresi pengungkapan yang kasar) dan wafat (ekspresi pengungkapan yang lebih halus)
  1. Antonim
Antonim merupakan pilihan kata yang memiliki makna berlawanan atau pun berbeda. Contoh kata antonim adalah besar dan kecil.
  1. Polisemi
Poisemi merupakan frasa kata yang memiliki banyak makna. Contohnya kata kepala yang dapat bermakna bagian tubuh yang terletak di atas leher, atau dapat juga bermakna bagian yang terletak di sebelah atas atau pun depan.
  1. Homograf
Homograf merupakan kata – kata yang memiliki tulisan sama akan tetapi memiliki arti dan bunyi yang berbeda.
  1. Homofon
Homofon merupakan kata – kata yang memiliki bunyi yang sama akan tetapi makna dan ejaannya berbeda.
  1. Homonim
Homonim merupakan kata – kata yang memiliki ejaan yang sama namun makna dan bnyinya berbeda. Contoh Asep (nama orang) dan asep (asap).
  1. Hiponim
Hiponim merupakan kata yang maknanya telah tercakup di dalam kata lainnya. Contohnya kata Salmon yang telah termasuk ke dalam makna kata ikan.
  1. Hipernim
Hipernim merupakan kata yang telah mencakup makna kata lain. Contohnya ada pada kata sempurna yang telah mencakup kata baik, bagus, dan beberapa kata lainnya.

Syarat-Syarat Diksi
Untuk menghasilkan cerita yang menarik dengan pilihan kata, maka diksi yang baik harus memenuhi syarat-syarat berikut ini diantaranya:
  • Ketepatan dalam pemilihan kata dalam menyampaikan sebuah gagasan
  • Pengarang harus memiliki kemampuan membedakan secara tepat nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa bagi pembaca
  • Menguasai berbagai kosakata dan mampu memanfaatkan kata tersebut menjadi sebuah kalimat yang jelas, efektif dan mudah dimengerti
Ciri-Ciri Diksi
Adapun ciri-ciri diksi yaitu:
  • Tepat dalam pemilihan kata untuk mengungkapkan gagasan atau hal yang diamanatkan
  • Dapat digunakan untuk membedakan secara tepat nuansa makna dan bentuk yang sesuai dengan gagasan dan situasi serta nilai rasa pembaca.
  • Menggunakan pembendaharaan kata yang dimiliki masyarakat bahasanya dan dapat menggerakan dan memberdayakan kekayaan tersebut menjadi jaring kata yang jelas.

Fungsi Diksi
Adapun fungsi diksi, diantaranya yaitu:
Dengan diksi maka suatu kata akan lebih jelas, kata tersebut akan terasa tepat dan sesuai dengan penggunaannya. Ketepatan pemilihan kata (diksi) tersebut bertujuan untuk tidak menimbulkan interpretasi atau tafsiran yang berbeda antara penulis dengan pembaca. Selain itu, bertujuan untuk memperindah kalimat, pengarang ata penulis bisa membuat cerita menjadi lebih runtut. Berikut beberapa fungsi diksi yang lainnya yaitu:
  • Membuat pembaca memahami apa yang disampaikan penulis atau pengarang
  • Membuat komunikasi lebih efektif dan juga lebih efisien
  • Menggambarkan ekspresi yang ada pada gagasan
  • Membentuk gagasasan yang tepat.


Sumber:
http://www.markijar.com/2017/05/pedoman-ejaan-yang-disempurnakan-eyd.html
https://pengertiandefinisi.com/pengertian-diksi-fungsi-diksi-dan-macam-macam-diksi/
https://www.pelajaran.id/2017/10/pengertian-diksi-syarat-ciri-fungsi-manfaat-jenis-dan-contoh-diksi.html
https://welcome-to-our.blogspot.com/2014/06/materi-diksi-dan-gaya-bahasa.html