Thursday, April 18, 2019

FILOSOFI BURUNG GARUDA PANCASILA

Filosofi Burung Garuda Pancasila

 

Sejarah Burung Garuda

Di dalam PP No. 43/1968 itu terdiri dari 15 pasal, Di dalam pasal 12 ada peraturan yang melarang menambahkan gambar, angka, atau apapun pada lambang negara Garuda Pancasila. Dan Garuda pancasila pun dilarang dijadikan cap dagang. Oleh sebab itu harus berhati-hati dalam pemakaiannya. Sebab kalau kedapatan melanggar dapat denda atau sanksi. Kecintaan kepada Indonesia harus disertai dengan menjaga setiap ciri khas bangsa ini, termasuk juga lambang negaranya. Banyak sekali kisah menarik tentang sejarah burung garuda dari awal sampai burung garuda dijadikan sebagai lambang negara Indonesia.

Burung Garuda Sebagai Lambang Pancasila




Sesudah kemerdekaan Indonesia 1945 sampai 1949 lalu disusul oleh pengakuan kedaulatan Indonesia bagi belanda di dalam Konferensi Meja Bundar pada tahun 1049. Sehingga Indonesia sepertinya membutuhkan lambang negara.

Para anggotanya adalah Ki Harjar Dewantoro, M A Pellaupesy, Moh Natsir, dan RM Ng Poerbatjaraka dimana tugas untuk menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk memilih dan diajukan kepada pemerintah.

Jika menurut rujukan Bung Hatta yang tertera pada buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan sebuah keputusan Sidang Kabinet itu Menteri Priyono melakukan sayembara. lalu terpilihlah dua rancangan dua lambang negara yang terbaik, yakni karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin.

Untuk proses yang berikutnya ditemima langsung oleh Presiden dan DPR ialah hasil karya dari Sultan Hamid II. Kenapa karya M. Yamin di tolak? Karena rancangan M. Yamin menyertakan sinar-sinar matahari dimana salah satu pengaruh jepang.

Sesudah rancangan Sultan Hamid II dipilih, lalu terjadilah dialog secara intensif antara perancang dengan Presiden Indomesia Serikat Ir. Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta. Hal itu terus dilakukan demi kepentingan penyempurnaan rancangan.

Mereka bertiga sudah bersepakat untuk mengganti pita yang dicengkeram Garuda itu awalnya hanyalah pita merah putih tetapi kemudian ditambahkan dengan semboyan “Bhine Tunggal Ika”.

Presiden RI pertama menyerahkan rancangan itu kepada kabinet RIS melalui Moh Hatta. Kalau menurut Pringgodigdo dirinya mengatakan jika rancangan lambang negara dari hasil karya Sultan Hamid II sudah diresmikan sebagai lambang negara pada sidang Kabinet RIS tanggal 11 Februari 1950.

Makna Lambang Burung Garuda

 

Burung Garuda

  • Garuda Pancasila merupakan burung yang sudah dikenal melalui mitologi kuno di sejarah Nusantara (Indonesia), yaitu tunggangan Dewa Wishnu yang berwujud seperti burung elang rajawali. Garuda dipakai sebagai Simbol Negara untuk menggambarkan Negara Indonesia merupakan bangsa yang kuat dan besar.
  • Warna keemasan di burung Garuda mengambarkan kejayaan dan keagungan.
  • Garuda memiliki sayap, paruh, cakar dan ekor yang melambangkan tenaga dan kekuatan pembangunan.
  • Jumlah bulu Garuda Pancasila mengambarkan hari / Tanggal proklamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia, yaitu tanggal 17-Agustus-1945, antara lain: Jumlah bulu pada masing-masing sayap berjumlah 17, Jumlah bulu pada ekor berjumlah 8, Jumlah bulu di bawah perisai/pangkal ekor berjumlah 19, Jumlah bulu di leher berjumlah 45.

Perisai Burung Garuda

  • Perisai merupakan tameng yang telah lama dikenal dalam budaya dan peradaban Nusantara sebagai senjata yang melambangkan  perlindungan, pertahanan dan perjuangan diri untuk mencapai tujuan.
  • Di tengah perisai terdapat sebuah garis hitam tebal yang menggambarkan garis khatulistiwa hal tersebut mencerminkan lokasi / Letak Indonesia, yaitu indonesia sebagai negara tropis yang dilintasi garis khatulistiwa.
  • Pada perisai terdapat lima buah ruang yang mewujudkan dasar negara Pancasila.
  • Warna dasar pada ruang perisai merupakan warna bendera Indonesia (merah-putih). Dan pada bagian tengahnya memiliki warna dasar hitam. 

Berikut adalah pembagian dan penjelasan lambang pada Perisai Burung Garuda:

 
Makna sila ke-1
Ketuhanan Yang maha Esa. Sila yang pertama ini dilambangkan memakai perisai hitam dengan bintang emas berkepala lima. Maksud dari lima kepala dalam bintang emas itu ialah menggambarkan 5 agama besar yang terdapat di Indonesia, yakni Islam, Hindu, Budha, Kristen, dan ideologi Sekuler Sosialisme. 

 
Makna sila ke-2
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Sila yang kedua dilambangkan dengan rantai yang tersusun atas gelang kecil ini menandakan hubungan sesama manusia antara satu dengan yang lainnya saling bahu-membahu. Gelang persegi yang terdapat pada lambang pancasila itu juga menggambarkan gelang seperti laki-laki dan lingkarannya menggambarkan perempuan.

 
Makna sila ke-3
Persatuan Indonesia. Sila ketiga yang dilambangkan dengan pohon beringin yang mana dalam bahasa ilmiahnya adalah ficus benjamina. Dalam bagian kiri atas perisai memiliki warna putih, pohon beringin ialah pohon yang berakar tunjang. Akar tunjang yang dimaksud ialag akar tunggal panjang yang menunjang pohon yang besar itu kedalam tanah.

Hal tersebut menggambarkan atau memberikan contoh kesatuan dan persatuan Indonesia. Pohon beringin ini sendiri mempunyai banyak akar yang bergelantungan dari rantingnya. hal tersebut menggambarkan jika Indonsia ialah negara kesatuan tetapi memiliki bermacam-macam latar belakang budaya mulai sabang hingga merauke.

 
Makna sila ke-4
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan. Sila ke empat yang disimbolkan dengan kepala banteng pada bagian kanan atas perisai berlatar merah. Lembu liar atau Banteng merupakan binatang sosial yang suka berkumpul, sama halnya dengan manusia dimana dalam pengambilan keputusan harus dilakukan secara musyawarah salah satunya dengan cara berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu.

 
Makna sila ke-5
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dilambangkan dengan padi dan kapas di bagian kanan bawah perisai yang berlatar putih. kapas dan padi (mencerminkan pangan dan sandang) merupakan kebutuhan pokok semua masyarakat Indonesia tanpa melihat status maupun kedudukannya. ini mencerminkan persamaan sosial dimana tidak adanya kesenjangan sosial anatara satu dan yang lainnya, tapi hal ini (persamaan sosial) bukan berarti bahwa Indonesia memakai ideologi komunisme.

Makna pita yang bertuliskan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika"

  • Sehelai pita putih dengan tulisan "Bhinneka Tunggal Ika" berwarna hitam dicengkeram oleh Kedua cakar Garuda Pancasila.
  • Semboyan Bhinneka Tunggal Ika merupakan kutipan dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Kata "bhinneka" memiliki arti beraneka ragam atau berbeda-beda, sedang kata "tunggal" berarti satu, dan kata "ika" bermakna itu. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diartikan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda beda tapi pada hakikatnya tetap satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk melambangkan kesatuan dan persatuan Bangsa Indonesia yang terdiri dari beraneka ragam ras, budaya, bahasa daerah, agama, suku bangsa dan kepercayaan.

Makna warna pada Garuda Pancasila

Ada beberapa warna yang terdapat pada Lambang Garuda Pancasila. Warna-warna yang dipakai menjadi warna pada lambang Garuda Pancasila ini memiliki makna dan arti kurang lebih sebagai berikut.
  • Warna putih memiliki arti kesucian, kebenaran, dan kemurnian.
  • warna hitam memiliki makna keabadian.
  • Warna merah memiliki artian keberanian.
  • Warna hijau artinya adalah kesuburan dan kemakmuran.
  • Warna kuning berarti kebesaran, kemegahan, dan keluhuran.

Letak Warna pada Bagian-bagian Garuda Pancasila 

  • Warna yang digunakan dalam lambang Garuda Pancasila tidak boleh diletakkan asal asalan karena warna warna itu telah ditentukan untuk diletakkan pada bagian-bagian yang ada pada lambang Garuda Pancasila.
  • Warna hitam menjadi warna kepala banteng yang terdapat di lambang Garuda Pancasila. Warna hitam digunakan juga untuk warna perisai tengah latar belakang bintang, juga untuk mewarnai garis datar tengah perisai. dan Warna hitam juga dipakai sebagai warna tulisan untuk semboyan "Bhinneka Tunggal Ika".
  • Warna merah digunakan untuk warna perisai kiri atas dan kanan bawah yang terdapat pada lambang Garuda Pancasila.
  • Warna hijau digunakan sebagai warna pohon beringin.
  • Warna putih dipakai untuk warna perisai kiri bawah dan kanan atas. warna putih juga diberi pada Pita yang dicengkeram oleh Burung Garuda Pancasila.
  • Sedangkan Warna kuning diletakkan sebagai warna Garuda Pancasila, untuk warna bintang, rantai, kapas, dan padi.
Sekian dari artikel Mengenai Filosofi Burung Garuda Pancasila. Semoga artikel ini bisa bermanfaat serta manambah ilmu bagi anda. Terimakasih atas kunjungannya.

Sumber:
https://organicvolunteers.com/lambang-burung-garuda/
http://www.markijar.com/2017/01/arti-dan-makna-lambang-dan-simbol.html


 



 

No comments:

Post a Comment